Langsung ke konten
Nasional

Rupiah Melemah: BI Jangan Tutup Mata dan Telinga, Pemerintah Harus Bertindak

6 menit baca
41x dibaca
AD 728x90 — Landscape
Bagikan:
Rupiah Melemah: BI Jangan Tutup Mata dan Telinga, Pemerintah Harus Bertindak

JAKARTA, Jenterarakyat.com — Rupiah sedang tidak baik-baik saja. Nilai tukar mata uang Garuda terus merosot dalam beberapa hari terakhir, menyentuh level yang paling dalam sepanjang sejarah perdagangannya. Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), ru...

JAKARTA, Jenterarakyat.com — Rupiah sedang tidak baik-baik saja. Nilai tukar mata uang Garuda terus merosot dalam beberapa hari terakhir, menyentuh level yang paling dalam sepanjang sejarah perdagangannya. Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), rupiah berada di kisaran Rp17.652 hingga Rp17.738 per dolar AS, bahkan sempat menembus Rp17.706.

Kondisi ini sontak menyedot perhatian berbagai kalangan. Tak hanya investor dan pelaku pasar modal, tetapi juga organisasi kemasyarakatan yang concern terhadap nasib ekonomi rakyat kecil. Salah satunya adalah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Timur.

Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kerakyatan dan UMKM GMNI Jakarta Timur, Bima Sadiropa Sijabat, menyoroti tekanan besar yang sedang dialami rupiah akibat penguatan dolar Amerika Serikat dan menguatnya sejumlah mata uang regional, termasuk ringgit Malaysia.

Baca Juga
Dari Pedagang Sayur hingga Pekerja Pabrik: Potret Kehidupan di Balik Jendela KA Siliwangi

Dari Pedagang Sayur hingga Pekerja Pabrik: Potret Kehidupan di Balik Jendela KA Siliwangi

Nasional

"Situasi pelemahan rupiah hari ini harus menjadi perhatian serius pemerintah dan Bank Indonesia. Ketika dolar AS terus menguat dan mata uang regional seperti ringgit Malaysia ikut mengalami penguatan, maka posisi rupiah semakin tertekan. Dampaknya bukan hanya dirasakan investor, tetapi langsung menyentuh rakyat kecil, pelaku UMKM, hingga stabilitas harga kebutuhan pokok," ujar Bima.

Tekanan Ganda: Dolar Menguat, Mata Uang Regional Ikut Naik

Pelemahan rupiah kali ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ada kombinasi faktor global dan domestik yang saling bertali-temali.

Baca Juga
Jakarta, Tangerang, dan Kalsel Ambruk dalam Sehari: 40 Rumah Rusak, Banjir Setinggi 110 Cm, dan Ribuan Jiwa Mengungsi

Jakarta, Tangerang, dan Kalsel Ambruk dalam Sehari: 40 Rumah Rusak, Banjir Setinggi 110 Cm, dan Ribuan Jiwa Mengungsi

Nasional

Dari sisi global, suku bunga tinggi Amerika Serikat menjadi magnet bagi investor global. Uang mengalir ke aset berbasis dolar, meninggalkan mata uang negara berkembang termasuk rupiah. Meningkatnya tensi geopolitik dunia juga membuat investor lebih memilih "safe haven" seperti dolar AS.

Dari sisi domestik, tingginya kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, serta keluarnya arus modal asing dari pasar keuangan Indonesia membuat rupiah semakin rentan. IHSG pun ikut terpukul, melemah hingga 1,82 persen ke level 6.203, bahkan sempat menyentuh 6.181.

"Ketika investor global lebih memilih menyimpan aset dalam bentuk dolar AS, maka negara berkembang seperti Indonesia akan menghadapi tekanan besar terhadap nilai tukarnya. Ini yang sedang terjadi hari ini," jelas Bima.

Baca Juga
Lagi! Mobil Ekspedisi Terbalik di Tikungan Lendo Lembor, Tikungan Maut Kembali Regang Korban, Warga: "Ini Sudah Berulang Kali"

Lagi! Mobil Ekspedisi Terbalik di Tikungan Lendo Lembor, Tikungan Maut Kembali Regang Korban, Warga: "Ini Sudah Berulang Kali"

Nasional

Yang Memburuk: Ringgit Malaysia Juga Menguat

Satu faktor yang membuat posisi rupiah semakin tertekan adalah menguatnya mata uang regional, termasuk ringgit Malaysia. Berdasarkan data kurs perbankan nasional terbaru, nilai tukar ringgit Malaysia berada di kisaran Rp4.388 hingga Rp4.618 per 1 ringgit.

Artinya, ketika dolar AS menguat dan ringgit juga ikut menguat, rupiah terjepit dari dua sisi. Ini berbeda dengan situasi di masa lalu di mana ketika dolar naik, mata uang regional lain juga ikut melemah. Kini, rupiah seperti berjalan sendiri di tengah tekanan.

BI Sudah Bergerak, Tapi Cukupkah?

Bima mengakui bahwa Bank Indonesia (BI) sejauh ini telah menjalankan tugas dan kewenangannya sesuai amanat Undang-Undang. Beberapa langkah yang telah diambil antara lain:

1. Menaikkan suku bunga acuan untuk menarik aliran modal asing
2. Melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas) untuk menstabilkan rupiah
3. Memperkuat transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk mengurangi tekanan di pasar spot
4. Menjaga cadangan devisa agar tetap memadai

"Langkah-langkah itu adalah kebijakan yang tepat untuk menahan tekanan terhadap rupiah. Namun stabilitas rupiah tidak bisa hanya dibebankan kepada Bank Indonesia semata," tegas Bima.

Ia menekankan bahwa pemerintah pusat harus ikut bergerak. Menguatkan sektor riil dan ekonomi domestik adalah kunci agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal.

Langkah Konkret yang Harus Segera Diambil

Bima merumuskan enam langkah konkret yang perlu segera dilakukan pemerintah:

Pertama, memperkuat produksi dan industri nasional. Semakin sedikit Indonesia bergantung pada impor, semakin kecil dampak pelemahan rupiah terhadap biaya produksi dalam negeri.

Kedua, menjaga devisa hasil ekspor tetap berada di dalam negeri. Jangan sampai devisa hasil jerih payah ekspor justru mengendap di luar negeri.

Ketiga, memperkuat sektor UMKM sebagai penopang utama ekonomi nasional. UMKM adalah tulang punggung ekonomi kerakyatan.

Keempat, mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat. Jangan sampai pelemahan rupiah memicu kenaikan harga pangan yang tak terkendali.

Kelima, meningkatkan kepercayaan investor melalui kepastian hukum dan stabilitas politik nasional. Modal asing akan masuk jika mereka merasa aman.

Keenam, memperluas penggunaan transaksi mata uang lokal antarnegara (Local Currency Settlement/LCS) untuk mengurangi dominasi dolar AS dalam perdagangan internasional.

"Dengan langkah-langkah ini, tekanan terhadap rupiah bisa dikurangi secara fundamental, bukan hanya teknis di pasar," ujar Bima.

Siapa yang Paling Terdampak?

Bima mengingatkan bahwa jika dolar AS terus mengalami kenaikan dan rupiah semakin melemah, dampaknya akan sangat luas:

· Harga barang impor akan meningkat, termasuk bahan baku industri dan barang konsumsi
· Biaya produksi industri naik, yang pada akhirnya akan dibebankan ke konsumen
· Harga BBM berpotensi terdorong naik karena komponen impor dalam pasokan energi
· Utang luar negeri pemerintah dan swasta membengkak jika dihitung dalam rupiah
· Inflasi dapat semakin tinggi, menggerus daya beli masyarakat

"Yang paling terdampak tentu masyarakat kecil dan pelaku UMKM. Ketika bahan baku naik, ongkos produksi naik, tetapi daya beli masyarakat melemah, maka ekonomi rakyat akan mengalami tekanan berlapis. Ini yang harus diantisipasi sejak sekarang," katanya.

IHSG Juga Tertekan: Tanda Kekhawatiran Pasar

Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami tekanan signifikan. Pada pembukaan perdagangan 21 Mei 2026, IHSG tercatat melemah hingga 1,82 persen ke level 6.203 dan bahkan sempat bergerak turun lebih dalam ke area 6.181.

Menurut Bima, kondisi ini menunjukkan adanya kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi nasional. Investor, baik domestik maupun asing, sedang wait and see.

"Pemerintah harus segera mengambil langkah strategis dan terukur agar kepercayaan pasar tetap terjaga. Jangan sampai pelemahan rupiah berlarut-larut karena akan semakin sulit ditarik kembali," ujarnya.

Pesan untuk Pemerintah: Jangan Cuma Fokus Angka Pertumbuhan

Bima mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak ada artinya jika rakyat kecil semakin menderita. Pelemahan rupiah adalah ujian bagi ketangguhan ekonomi nasional.

"Indonesia harus memperkuat fondasi ekonominya sendiri. Ketahanan pangan, energi, industri nasional, dan penguatan UMKM harus menjadi prioritas utama agar ekonomi nasional tidak mudah terguncang hanya karena tekanan mata uang asing," tegasnya.

Ia menambahkan, "Negara tidak boleh hanya fokus menjaga angka pertumbuhan, tetapi juga harus memastikan rakyat tetap mampu bertahan di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu."

Penutup: BI dan Pemerintah Harus Bergerak Cepat

Pelemahan rupiah ke level Rp17.700 per dolar AS adalah alarm yang tidak bisa diabaikan. BI telah bergerak, tapi tidak cukup. Pemerintah pusat harus ikut turun tangan dengan kebijakan yang berpihak pada penguatan fundamental ekonomi.

Rakyat kecil dan pelaku UMKM tidak bisa menunggu lebih lama. Daya beli mereka sudah tergerus inflasi, dan pelemahan rupiah akan memperparah keadaan.

"BI jangan tutup mata dan telinga," pesan Bima.

Sudah saatnya semua elemen bangsa bersatu untuk menjaga stabilitas ekonomi. Bukan hanya demi angka-angka di atas kertas, tetapi demi rakyat yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup di tengah kerasnya tekanan zaman

 

( Wic )

AD 728x90 — Landscape
R

Ditulis oleh

Redaksi Jentera

Aktifkan Notifikasi

Dapatkan update berita terbaru langsung di browser Anda.