Leo Club Karisma Ajak Anak Disabilitas Bermain di Kidzania, Sebuah Aksi dari Muda untuk Muda
JAKARTA, MEDIAPEWARTA.COM – Kidzania di kawasan SCBD Jakarta, Sabtu (30/5/2026), tak seperti biasanya. Bukan hanya karena gedung itu selalu ramai di akhir pekan. Tapi karena ada kebahagiaan yang berbeda. Kebahagiaan yang mungkin jarang mereka...
JAKARTA, MEDIAPEWARTA.COM – Kidzania di kawasan SCBD Jakarta, Sabtu (30/5/2026), tak seperti biasanya.
Bukan hanya karena gedung itu selalu ramai di akhir pekan. Tapi karena ada kebahagiaan yang berbeda. Kebahagiaan yang mungkin jarang mereka rasakan.
Puluhan anak dari Rumah Singgah Lions dan Komunitas Sensory Lab Indonesia diajak bermain. Mereka adalah anak-anak disabilitas. Anak-anak berkebutuhan khusus.
Beberapa dari mereka baru pertama kali menaiki taksi. Beberapa baru pertama kali melihat gedung setinggi itu. Dan hampir semuanya, untuk pertama kalinya, merasa diterima tanpa syarat.
"Kami ingin mengembalikan sedikit keceriaan dan sedikit kebahagiaan untuk mereka," kata Jonathan Albert Candra, ketua panitia yang masih belia.
Kidzania, Sabtu Pagi yang Berbeda: Bukan Sekadar Wisata Biasa
Acara itu diberi tajuk "From Youth, By Youth, For Youth: A Day of Imagination".
Tepat namanya. Dari anak muda, oleh anak muda, untuk anak muda. Leo Club Karisma, komunitas binaan Lions Club Indonesia, menjadi penggagas.
Sejak pukul 09.00, anak-anak mulai berdatangan. Ada yang menggunakan kursi roda. Ada yang bergandengan tangan dengan orang tua. Ada yang tampak cemas, ada yang sudah tersenyum lebar.
Para relawan Leo Club Karisma menyambut mereka. Wajah-wajah muda itu ramah. Mereka membagi anak-anak ke dalam kelompok-kelompok kecil.
"Satu relawan mendampingi satu anak. Kita ingin mereka merasa diperhatikan," ujar seorang panitia.
Jonathan Albert Candra: "Saya Mengalami Sendiri Sebagai Kakak dari Anak Berkebutuhan Khusus"
Di sela acara, Jonathan Albert Candra memberikan sambutan singkat. Suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca.
Ia tak bicara sebagai ketua panitia. Ia bicara sebagai seorang kakak.
"Saya punya adik berkebutuhan khusus. Saya mengalami sendiri berbagai kendala dan hambatan yang harus dihadapi adik saya setiap hari," ujarnya.
Ia melanjutkan, "Dan bagaimana komunitas kita belum paham ataupun siap menerima dan bersikap kepada mereka."
Kalimat itu membuat sejumlah hadirin tertegun. Seorang ibu di barisan belakang menyeka air mata.
Jonathan tak berhenti di situ. Ia menceritakan bagaimana anak-anak berkebutuhan khusus seringkali merasa terasing.
"Mereka tidak dapat berbaur dalam kegiatan sehari-hari seperti anak lain. Pandangan berbeda serta perlakuan kurang baik sering diderita oleh anak-anak berkebutuhan khusus di lingkungan sekitarnya. Hal ini sering memupuskan senyum dan harapan mereka," katanya.
Lalu ia mengucapkan kalimat yang menggema sepanjang hari.
"We are different, but no less."
Kita berbeda, tapi tidak kurang.
"You Are Different, But No Less": Pesan yang Menggetarkan Hati
Jonathan mengulanginya sekali lagi. "You are different, but no less."
Ia menatap anak-anak yang duduk di depannya. Beberapa tersenyum. Beberapa mungkin tak sepenuhnya mengerti. Tapi energi kalimat itu merambat ke seluruh ruangan.
"Please do remember," tegas Jonathan, "kalian berbeda, tapi kalian tidak kurang."
Kata-kata itu menjadi semacam mantra. Di Kidzania, untuk satu hari, anak-anak itu tidak diperlakukan sebagai "penyandang disabilitas". Mereka diperlakukan sebagai anak-anak.
Mereka bisa menjadi pilot di wahana maskapai penerbangan. Bisa menjadi pemadam kebakaran. Bisa menjadi koki, polisi, atau petugas supermarket.
"Lihat, saya bisa jadi pilot!" teriak seorang anak laki-laki dengan seragam maskapai.
Relawan yang mendampinginya tersenyum. "Iya, hebat banget!"
PCC Lions Eveline N. Chandra Menangis: "Saya Sangat Terharu"
Acara itu turut dihadiri sejumlah tokoh. PCC Lions Club Indonesia, Eveline N. Chandra, datang bersama jajarannya. Hadir pula Hastuti B Kresna, Ketua Umum Special Olympics Indonesia Warsito Ellwein, serta Senior Manager Save the Children Evie Woro Yulianti.
Eveline tak kuasa menahan haru.
"Saya sangat bangga dan sangat senang sekali dengan kegiatan anak muda yang peduli sesama. Sebagai sesama, sudah patut untuk saling membantu," ujarnya dengan suara bergetar.
"Adik-adik ini kalau tidak dikasih kesempatan, kita tidak tahu sampai di mana kapasitas mereka. Dan sungguh saya sangat terharu acara hari ini," tambahnya.
Ia mengajak semua pihak untuk terus peduli.
"Tanpa kita, tanpa bantuan dan perhatian, kita tidak akan berarti juga di mata Tuhan. Jadi, kesempatan kita untuk berbagi adalah sangat penting."
Hastuti B. Kresna: "Kelebihan Kita adalah Tanggung Jawab untuk Berbagi"
Sementara itu, District Governor A1 Lions Club Indonesia, Hastuti B. Kresna, menyoroti aspek tanggung jawab.
"Kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus memang memerlukan perhatian dari semua pihak," ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa setiap kelebihan yang dimiliki seseorang adalah amanah.
"Dalam usaha, kita diberi kelebihan. Itu tentunya juga dengan tanggung jawab yang juga berlebih. Yaitu untuk mengajak semua, sehingga bisa menikmati apa yang kita syukuri dalam hidup ini."
Hastuti mengapresiasi kegiatan anak-anak muda ini.
"Contohnya hari ini, ada Leo Club, ada Lions Club Jakarta Wardaya 70, kemudian juga ada rumah singgah, Sensory Club, Special Olympics, Save the Children. Ini menunjukkan bahwa untuk sebuah kehidupan, jika kita menyatukan seluruh kekuatan, maka itu bisa merubah masa depan."
Galang Donasi: Rp25 Juta dari Leo Club, Rp30 Juta dari PT Forisa Nusa Persada
Tak hanya bermain, Leo Club Karisma juga menggalang donasi. Donasi ini akan disalurkan untuk mendukung Pekan Olahraga Special Olympics Nasional (Pesonas) di Kupang dan Special Olympics World Games di Santiago, Chile.
Leo Club Karisma menyumbang Rp25 juta. PT Forisa Nusa Persada juga turut berdonasi Rp30 juta.
"Kami ingin mendukung para atlet spesial ini. Mereka juga berhak berprestasi," ujar perwakilan Leo Club.
Selain itu, Leo Club Karisma juga memberikan donasi kepada Save the Children, lembaga nirlaba yang bergerak dalam perlindungan anak.
Pendampingan Penuh Kasih: Satu Relawan untuk Satu Anak
Sepanjang hari, relawan Leo Club Karisma tak pernah lelah. Mereka mendampingi anak-anak berkeliling wahana.
Ada yang sabar mengajarkan cara memegang alat pemadam kebakaran. Ada yang dengan lembut membantu anak yang kesulitan berjalan. Ada yang menggendong anak yang kelelahan.
"Ini pengalaman yang luar biasa," ujar seorang relawan bernama Dinda (19).
"Saya sadar bahwa kebahagiaan mereka sederhana. Bisa bermain seperti anak lain. Kita sering lupa bersyukur."
Seorang anak bernama Raka (10), penyandang autis, awalnya tak mau disentuh. Ia hanya diam di sudut. Seorang relawan duduk di sampingnya tanpa bicara.
Setelah 20 menit, Raka meraih tangan relawan itu. "Ayo main," katanya pelan.
Relawan itu hampir menangis.
Sehari yang Mengubah Banyak Hal
Sore hari, anak-anak itu pulang. Wajah mereka lelah, tapi bahagia.
Ada yang masih memegang seragam pilot yang dipakainya. Ada yang bawa pulang lencana dari wahana polisi. Ada yang peluk erat erat orang tuanya.
"Raka sangat senang. Saya lihat dia tersenyum sepanjang hari," ujar ibu Raka.
"Terima kasih Leo Club Karisma. Terima kasih sudah membuat anak saya merasa setara."
Jonathan Albert Candra berdiri di pintu keluar. Ia tersenyum melihat satu per satu anak-anak itu pergi.
"Kami akan terus melakukan ini," ujarnya.
"Ini bukan akhir. Ini baru awal. Masih banyak anak di luar sana yang butuh perhatian. Butuh ditegaskan bahwa mereka berbeda, tapi tidak kurang."
Sore itu, langit Jakarta mendung. Tapi hati puluhan anak itu terang benderang.
Karena untuk satu hari, mereka bukan anak disabilitas. Mereka hanya anak-anak yang bermain.
Stefanus
Ditulis oleh
Redaksi Jentera