Langsung ke konten
Nasional

Dari Pedagang Sayur hingga Pekerja Pabrik: Potret Kehidupan di Balik Jendela KA Siliwangi

5 menit baca
8x dibaca
AD 728x90 — Landscape
Bagikan:
Dari Pedagang Sayur hingga Pekerja Pabrik: Potret Kehidupan di Balik Jendela KA Siliwangi

Setiap pagi, pedagang, pelajar, pekerja, hingga orang tua berdesakan di Stasiun Sukabumi. Mereka tak sekadar naik kereta. Mereka menjalani hidup. Dan KA Siliwangi adalah kendaraannya.

SUKABUMI, JENTERARAKYAT.COM – Pagi masih gelap ketika Ibu Enok (52) sudah sampai di Stasiun Sukabumi. Di tangannya, dua keranjang plastik berisi sayuran hasil ladangnya di Cikukulu.

Ia bukan sekadar naik kereta.

"Setiap hari saya ke Cianjur jualan. Kalau naik angkot, ongkos habis setengah modal. Naik kereta cukup Rp5.000. Sisa buat anak di rumah," katanya sambil mengatur napas.

Baca Juga
Jakarta, Tangerang, dan Kalsel Ambruk dalam Sehari: 40 Rumah Rusak, Banjir Setinggi 110 Cm, dan Ribuan Jiwa Mengungsi

Jakarta, Tangerang, dan Kalsel Ambruk dalam Sehari: 40 Rumah Rusak, Banjir Setinggi 110 Cm, dan Ribuan Jiwa Mengungsi

Nasional

Cerita Ibu Enok adalah satu dari 457.890 cerita yang terangkum dalam data PT Kereta Api Indonesia (Persero) sepanjang Januari hingga April 2026.

Itu angka yang luar biasa. Rata-rata lebih dari 3.800 penumpang per hari. Dan semuanya membayar hanya Rp5.000 untuk perjalanan sejauh 67 kilometer dari Sukabumi ke Cipatat.

Pagi di Sukabumi: Pedagang, Pelajar, dan Pekerja Berdesakan di Stasiun

Baca Juga
PGN Pertahankan Rasio Pembayaran Dividen 80%, RUPST Setujui Dividen US$ 172,29 Juta dari Laba 2025

PGN Pertahankan Rasio Pembayaran Dividen 80%, RUPST Setujui Dividen US$ 172,29 Juta dari Laba 2025

Pemerintahan

Pukul 05.30 WIB. Stasiun Sukabumi sudah ramai.

Ada pedagang seperti Ibu Enok. Ada pelajar dengan seragam biru putih. Ada pekerja pabrik dengan tas ransel lusuh. Ada juga orang tua yang ingin bertemu keluarganya di kota sebelah.

Mereka berdesakan di peron. Bukan karena tak ada tiket. Tapi karena kereta ini adalah satu-satunya yang ongkosnya tak memberatkan.

Baca Juga
Bapanas Pastikan Beras SPHP Tak Naik Meski Dolar Menguat, Subsidi Rp4,97 Triliun Siap Guyur 828 Ribu Ton Beras Rakyat

Bapanas Pastikan Beras SPHP Tak Naik Meski Dolar Menguat, Subsidi Rp4,97 Triliun Siap Guyur 828 Ribu Ton Beras Rakyat

Pemerintahan

"Saya ke Cianjur sekolah. Naik kereta cuma Rp5.000. Kalau naik elf, habis Rp20.000 sekali jalan. Uang jajan saya habis," ujar Asep (17), siswa SMK di Cianjur.

Asep tinggal di Sukabumi bersama ibunya. Setiap hari ia pulang-pergi. Kereta api adalah satu-satunya alasan ia masih bisa bersekolah di kota yang lebih maju.

Angka 457.890: Bukan Statistik, Tapi Denyut Nadi Kehidupan

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, memahami betul fenomena ini.

"KA Siliwangi memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan masyarakat. Telah lama menjadi penghubung berbagai aktivitas kehidupan warga di wilayah Sukabumi, Cianjur, hingga Bandung Barat," ujar Anne dalam keterangan resminya.

Ia tak berbicara angka. Ia berbicara tentang manusia.

"Setiap perjalanan KA Siliwangi membawa banyak cerita kehidupan. Ada pelajar yang berangkat mengejar cita-cita, pedagang yang mencari nafkah untuk keluarganya, hingga masyarakat yang ingin bertemu orang-orang tersayangnya," tambahnya.

Bagi Anne, kereta api bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah ruang publik yang menghidupkan.

Rp5.000 untuk 67 Kilometer: Keajaiban Ekonomi di Atas Rel

Apa rahasianya? Public Service Obligation (PSO).

Skema ini memungkinkan masyarakat menikmati perjalanan dengan tarif yang sangat murah. Negara memberikan subsidi. KAI menjalankan operasional. Masyarakat tinggal naik.

Tarif normal untuk jarak 67 kilometer bisa mencapai Rp30.000-Rp50.000. Tapi warga hanya membayar seperlima atau bahkan sepersepuluhnya.

Coba bandingkan: ojek online dari Sukabumi ke Cianjur bisa Rp50.000. Angkutan umum antarkota minimal Rp25.000. Elf atau travel? Bisa Rp40.000.

Maka tak heran jika ribuan warga memilih berdesakan di kereta daripada merogoh kocek lebih dalam.

"Ini bentuk subsidi yang tepat sasaran," kata Anne. "Masyarakat kelas bawah yang paling merasakan."

Dari Stasiun ke Stasiun: Cerita Berbeda di Setiap Titik

Perjalanan KA Siliwangi dimulai dari Stasiun Sukabumi. Lalu melintasi Stasiun Gandasoli, Cireungas, Cibadak, Karangtengah, Cianjur, Ciranjang, Cipeuyeum, Gekbrong, Lampegan, Cibeber, hingga berakhir di Stasiun Cipatat.

Masing-masing stasiun punya cerita sendiri.

Di Cibadak dan Cireungas, kereta menjadi bagian penting mobilitas kawasan perdagangan dan pertanian. Sayuran dari petani diangkut ke pasar Cianjur. Barang dagangan dari Cipatat dibawa ke Sukabumi.

Di Cianjur dan Ciranjang, kereta membantu masyarakat menuju pusat pendidikan, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi. Sekolah, rumah sakit, pasar.

Di Lampegan dan Cibeber, suasana berubah. Di sinilah kereta memasuki kawasan pegunungan. Udara terasa lebih sejuk. Pepohonan lebih rimbun.

Di Balik Jendela: Sawah, Perbukitan, dan Terowongan Lampegan

Bagi yang tak terburu-buru, perjalanan dengan KA Siliwangi adalah terapi.

Dari balik jendela, pelanggan dapat menikmati hamparan sawah, perbukitan hijau, hingga udara pegunungan yang masih terasa sejuk.

Dan ada satu momen yang selalu dinanti: saat kereta memasuki Terowongan Lampegan.

Terowongan ini dibangun pada zaman Belanda, sekitar tahun 1880-an. Panjangnya sekitar 800 meter. Gelap. Lembap. Tapi bersejarah.

"Setiap lewat sini, saya selalu ingat cerita kakek saya. Dulu beliau ikut membangun terowongan ini," kata Ujang (65), warga Lampegan yang sudah puluhan tahun naik KA Siliwangi.

Kereta api, bagi Ujang, adalah jejak sejarah yang masih hidup.

Akses Wisata dan Perekonomian: Dampak Lebih dari Sekadar Transportasi

Tak hanya untuk mobilitas harian. KA Siliwangi juga membuka akses ke destinasi wisata.

Dari Stasiun Cibeber, pelanggan dapat melanjutkan perjalanan ke Situs Megalitikum Gunung Padang. Situs yang dipercaya sebagai salah satu peninggalan tertua di Asia Tenggara ini kini semakin mudah dikunjungi.

Dari Stasiun Cipatat, wisatawan bisa menikmati Stone Garden dan Goa Pawon. Kawasan karst purba dengan nilai sejarah tinggi. Tempat para arkeolog menemukan fosil manusia purba.

Anne Purba menegaskan bahwa keberadaan KA Siliwangi turut menjaga perputaran ekonomi masyarakat.

"Mobilitas yang semakin mudah membuat aktivitas perdagangan lokal, distribusi hasil pertanian, hingga sektor wisata berkembang semakin baik," ujarnya.

Pedagang di sekitar stasiun juga merasakan dampaknya. Warung-warung kecil laris menjelang keberangkatan. Penginapan-penginapan sederhana di dekat stasiun mulai ramai.

Fenomena Sosial: "Banyak Pelanggan yang Sudah Saling Mengenal"

Ada satu hal unik yang diungkap Anne.

"Banyak pelanggan yang sudah saling mengenal karena bertemu hampir setiap hari di perjalanan yang sama. Ada rasa dekat yang tumbuh di dalam kereta."

Ini bukan sekadar transportasi. Ini adalah ruang publik yang merajut hubungan.

Ibu Enok, pedagang sayur, misalnya. Ia sudah hafal wajah-wajah yang setiap pagi naik dari Sukabumi. Ia kenal Asep, si pelajar. Ia kenal Ujang, si pensiunan.

"Kadang kami ngobrol. Pinjam uang dulu kalau kepepet. Pulangnya bayar," katanya sambil tertawa.

Kereta api, bagi mereka, adalah ruang yang menghangatkan di tengah kota yang dingin.

Bukan Sekadar Rel dan Roda

KA Siliwangi bukan sekadar kereta api.

Ia adalah urat nadi yang membawa darah kehidupan dari Sukabumi ke Cipatat. Ia adalah alasan mengapa seorang ibu bisa tetap berjualan. Mengapa seorang anak bisa tetap bersekolah. Mengapa seorang kakek bisa tetap bertemu keluarganya.

Dengan tarif Rp5.000 dan subsidi PSO, negara hadir. Bukan dalam bentuk gedung megah atau jalan tol. Tapi dalam bentuk kereta api yang melintas setiap pagi, setia mengangkut mimpi-mimpi kecil warga Cianjuran.

Dan selama kereta itu masih berjalan, selama itu pula cerita-cerita kehidupan terus tercipta di atas rel.

"KA Siliwangi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di lintas ini," tutup Anne.

Dan mungkin, itulah definisi sejati dari transportasi publik.

( Stefanus Hari )

AD 728x90 — Landscape
R

Ditulis oleh

Redaksi Jentera

Aktifkan Notifikasi

Dapatkan update berita terbaru langsung di browser Anda.