Selfie di Spot Populer, Viral Wisatawan Jatuh dan Terseret Ombak di Apparalang Bulukumba, Ditemukan Meninggal 1,5 Km dari TKP
Bulukumba, 8 Juni 2026, Jenterarakyat.com – Senja itu, ombak di kawasan wisata Apparalang, Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan, tidak berbeda dari biasanya. Ia datang dan pergi, memecah di karang-karang tajam, men...
Bulukumba, 8 Juni 2026, Jenterarakyat.com – Senja itu, ombak di kawasan wisata Apparalang, Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan, tidak berbeda dari biasanya. Ia datang dan pergi, memecah di karang-karang tajam, menciptakan buih putih yang memesona. Namun Minggu (7/6/2026) sekitar pukul 14.30 Wita, alam seolah mengamuk. Sebuah ombak besar menghantam tebing, dan dalam sekejap, kegembiraan berubah menjadi musibah.
Seorang wisatawan bernama Elmi Febrianti (20) terjatuh dari tebing. Ia sedang berswafoto (selfie) di sebuah papan kayu yang berada di ujung tebing—spot favorit pengunjung untuk mengabadikan momen dengan latar belakang laut biru yang membentang luas. Namun papan kayu itu licin. Ombak besar datang tiba-tiba. Elmi kehilangan keseimbangan, lalu jatuh ke laut.
Seketika, suasana di sekitar tebing berubah menjadi panik. Teriakan warga dan pengunjung lain pecah. Ada yang berusaha mendekati tebing, tetapi ombak yang terlalu besar membuat mereka urung. Ada yang langsung menelepon petugas. Namun waktu terus berjalan, dan Elmi terombang-ambing di tengah derasnya arus.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bulukumba, Andi Hasbullah, dalam keterangannya kepada awak media pada Minggu sore, menjelaskan kronologi singkat kejadian. "Penyebab (jatuh) terkena ombak di pinggir tebing, di tempat foto Apparalang, dan membuat korban jatuh," ucapnya.
Lokasi kejadian memang dikenal sebagai spot foto yang instagramable. Papan kayu yang menjorok ke laut memberikan sensasi seperti berdiri di ujung dunia. Banyak pengunjung rela mengantre untuk mendapatkan foto sempurna di tempat itu. Namun di balik keindahannya, tebing Apparalang juga menyimpan bahaya. Ombak besar bisa datang kapan saja. Licinnya papan kayu setelah terkena cipratan air laut juga menjadi ancaman.
Pada hari itu, ancaman itu menjadi kenyataan.
Video viral yang kemudian beredar luas di media sosial memperlihatkan detik-detik memilukan. Elmi terlihat berusaha keras menjaga kepalanya tetap di atas permukaan air. Ia melambaikan tangan, meminta pertolongan. Wajahnya tampak panik, mulutnya terbuka sesekali meneriakkan kata-kata yang tidak terdengar jelas karena gemuruh ombak.
Sayangnya, tidak ada yang bisa menolong. Ombak terlalu besar. Tebing terlalu tinggi. Siapa pun yang mencoba turun akan menghadapi risiko yang sama. Para pengunjung hanya bisa berteriak, berdoa, dan menonton dengan hati yang hancur. Beberapa dari mereka merekam, entah karena refleks atau sekadar untuk dokumentasi. Rekaman itulah yang kemudian menjadi viral dan mengundang duka dari seluruh penjuru tanah air.
Beberapa jam setelah kejadian, Tim SAR Gabungan segera dikerahkan. Personel dari BPBD, Basarnas, TNI, Polri, serta relawan dari masyarakat pesisir bahu-membahu menyisir perairan. Kondisi laut yang masih bergelombang menjadi tantangan tersendiri. Perahu karet yang digunakan harus berhati-hati agar tidak terbalik. Pencarian dilakukan dengan harapan Elmi masih bisa ditemukan dalam keadaan hidup.
Namun ombak dan arus laut ternyata membawa Elmi sangat jauh. Waktu terus berdetak. Satu jam, dua jam, lima jam. Harapan mulai menipis.
Malam menjelang dini hari, tepat pukul 00.10 Wita, Senin (8/6/2026), kabar duka datang. Tim SAR Gabungan berhasil menemukan Elmi. Namun tidak dalam keadaan seperti yang diharapkan. Ia sudah meninggal dunia. Jenazahnya ditemukan sekitar 1,5 kilometer dari lokasi kejadian. Tepatnya, terapung-apung di perairan lepas, terbawa arus sejauh itu dalam waktu kurang lebih 9 jam.
"Jenazah gadis jatuh di Apparalang ditemukan 1,5 km dari lokasi kejadian," demikian keterangan resmi yang diunggah BPBD Bulukumba pada Senin dini hari.
Unggahan itu sontak menyebar luas. Warganet yang sebelumnya menyaksikan video viral Elmi meminta tolong, kini harus menerima kenyataan pahit. Ratusan komentar berisi belasungkawa membanjiri kolom komentar. Banyak yang mengaku menangis setelah membaca kabar tersebut.
Di lokasi, suasana sangat mengharukan. Saat petugas membawa kantong jenazah turun dari perahu karet, jerit tangis keluarga korban pecah. Ibu Elmi hampir pingsan. Sang ayah hanya bisa terduduk di pasir, wajahnya pucat pasi, matanya kosong. Saudara-saudara korban saling berpelukan, berusaha menguatkan satu sama lain, meskipun air mata tidak bisa dibendung.
"Anakku... anakku..." teriak ibu Elmi berulang kali sebelum akhirnya dipingit oleh kerabat lain.
Saksi mata di lokasi, Andi Risal (32), yang saat kejadian berada tidak jauh dari tebing, menceritakan betapa cepatnya peristiwa itu terjadi. "Saya lihat dia selfie sendiri. Mungkin pakai tongsis atau tripod. Tiba-tiba ombak besar datang, dia kaget, terus jatuh. Saya dan teman-teman mau nolong, tapi tebing terlalu curam dan ombak gede banget. Kita hanya bisa teriak-teriak minta tolong," kenangnya dengan suara bergetar.
Ia menambahkan bahwa korban sempat berteriak minta tolong beberapa kali sebelum akhirnya terbawa arus. "Saya lihat tangannya masih melambai-lambai. Tapi makin lama makin jauh. Akhirnya hilang," ujarnya.
Pihak pengelola wisata Apparalang, hingga berita ini diturunkan, belum memberikan pernyataan resmi. Namun informasi yang dihimpun Mediapewarta.com menyebutkan bahwa pengelola akan mengevaluasi ulang sistem keamanan di spot foto tersebut. Beberapa opsi seperti pemasangan pagar pengaman, penambahan rambu peringatan, dan pembatasan jumlah pengunjung di area tebing sedang dipertimbangkan.
"Kami sangat berduka atas kejadian ini. Ini adalah yang pertama kali terjadi di Apparalang. Kami akan evaluasi total," ujar seorang petugas pengelola yang enggan disebut namanya.
Sementara itu, BPBD Bulukumba mengimbau kepada seluruh wisatawan yang berkunjung ke kawasan pesisir dan tebing untuk selalu berhati-hati. "Jangan memaksakan diri berfoto di tempat yang berbahaya. Perhatikan kondisi cuaca dan ombak. Keselamatan lebih utama daripada foto yang instagramable," pesan Andi Hasbullah.
Ia juga menambahkan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas pariwisata untuk meningkatkan standar keamanan di destinasi wisata alam yang rawan kecelakaan.
Jenazah Elmi Febrianti setelah ditemukan langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk proses identifikasi dan visum. Rencananya, jenazah akan diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan di kampung halamannya. Keluarga korban, yang masih dalam suasana duka, belum bisa dimintai keterangan lebih lanjut.
Kisah Elmi Febrianti menjadi pelajaran pahit bagi semua. Sebuah foto yang seharusnya menjadi kenangan indah, berubah menjadi tragedi yang merenggut nyawa. Sebuah selfie yang seharusnya diunggah ke media sosial dengan keterangan "Liburan asyik di Apparalang", kini hanya menyisakan duka dan air mata.
Di media sosial, tagar #ApparalangBerduka dan #SafetyFirstForSelfie mulai bermunculan. Banyak warganet yang mengunggah ulang video kejadian dengan pesan peringatan: "Jangan mempertaruhkan nyawa demi foto yang instagramable."
Satu hal yang pasti: Elmi Febrianti tidak akan pernah kembali. Namun tragedinya semoga menjadi pengingat bagi kita semua bahwa alam itu indah, tetapi juga bisa sangat berbahaya. Bahwa mengambil foto di tepi jurang atau tebing dengan ombak besar di bawahnya bukanlah tantangan yang harus diambil. Bahwa nyawa lebih berharga dari sekadar like dan komentar di media sosial.
Selamat jalan, Elmi. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi-Nya. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.
Stef
Ditulis oleh
Redaksi Jentera