Menabung 15 Tahun untuk Generasi: Museum Cilik di WDK Batu Jadi Saksi Bisu Kejayaan Petani Nusantara
KOTA BATU, Jenterarakyat.com – Di tengah gempuran wisata modern yang serba instan, sebuah ruang kecil di kompleks Wisata Dusun Kuliner (WDK) Kelurahan Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, berdiri dengan tenang. Namanya Museum Cilik. Jangan...
KOTA BATU, Jenterarakyat.com – Di tengah gempuran wisata modern yang serba instan, sebuah ruang kecil di kompleks Wisata Dusun Kuliner (WDK) Kelurahan Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, berdiri dengan tenang. Namanya Museum Cilik. Jangan remehkan ukurannya. Di dalamnya, tersimpan jejak peradaban pertanian yang nyaris tergusur zaman.
Saat awak media berkunjung, 30 Mei 2026, Rinto—pengelola boarding and property sekaligus pembina puluhan tenant di WDK—menyambut dengan cerita yang mengalir deras. Selama hampir 15 tahun, ia mengumpulkan benda-benda antik dari desa-desa. Bukan sekadar hobi, tapi misi.
"Ini saya kumpulkan, istilahnya bukan mengoleksi. Tapi mengumpulkan barang antik, alat produksi desa. Ternyata paling banyak alat pertanian," ujar Rinto kepada Jenterarakyat.com.
Luku, Gelebeg, Ani-ani: Alat yang Bicara
Rinto lalu mengajak berkeliling. Satu per satu alat pertanian tradisional ia perkenalkan. Ada Bajak (Luku) dari kayu solid—dulu ditarik sapi atau kerbau untuk membalik tanah. Ada Garu (Gelebeg) yang berfungsi meratakan sawah setelah dibajak. Lalu cangkul, sabit (arit) , dan yang paling menyentuh: Ani-ani (Etem) .
"Bayangkan, petani dulu memanen padi satu per satu menggunakan pisau kecil ini. Bukan karena mereka tidak punya teknologi. Tapi karena mereka menghormati alam. Sebelum menanam, mereka berdoa pada Tuhan dan alam semesta," jelas Rinto dengan nada penuh makna.
Tak ketinggalan, lesung dan alu dari kayu panjang ikut melengkapi koleksi. Alat ini dulu digunakan untuk memisahkan gabah dari sekam. Suara tek-tek lesung adalah irama kebersamaan yang kini mulai langka.
Dapur Tradisional: Jantung Rumah Petani
Yang membuat Museum Cilik istimewa adalah kehadiran zona Dapur Tradisional. Bukan sekadar pajangan tungku kayu dan periuk tanah liat. Rinto menjelaskan bahwa dapur dulu adalah pusat kehidupan.
"Dapur bukan cuma tempat memasak. Ini tempat menyimpan hasil pertanian. Tempat bersantai. Bahkan tempat embuk-embukan alias berdiskusi soal pertanian. Para petani duduk bersama, membahas masa tanam, harga, hingga berbagi doa," tuturnya.
Bahkan hingga kini, di beberapa pelosok desa, dapur tradisional masih dipertahankan. Menurut Rinto, ini adalah warisan budaya yang wajib diedukasikan ke generasi sekarang dan mendatang.
Pande Besi dan 'Ubub': Teknologi Sederhana yang Hebat
Area lain yang tak kalah menarik adalah Pande Besi. Dulu, profesi pande besi sangat vital. Mereka pembuat cangkul, sabit, linggis, pisau, hingga golok. Tekniknya: membakar besi, menempanya, membentuk sesuai fungsi, lalu mencemplungkannya ke air.
"Alat utama yang dipakai kami sebut ubub. Sederhana, tapi luar biasa. Ini adalah kearifan lokal yang harus kita catat sebagai bangsa," kata Rinto.
Target ke Depan: Museum Lebih Besar
Rinto mengaku baru dua bulan terakhir ini menyiapkan display museum secara lebih rapi. Ke depan, ia bercita-cita memiliki museum yang lebih besar dengan koleksi lebih lengkap.
"Motivasi kami sederhana: memberikan edukasi kepada generasi penerus. Bahwa proses bertani itu panjang. Mulai dari doa, mengolah tanah, menanam, memanen, hingga pasca-panen. Semua ada di sini," tegasnya.
Untuk long weekend mendatang, Rinto mengundang masyarakat berkunjung. "Di sini, mereka tidak hanya makan enak. Tapi juga belajar logika pertanian. Dari air, tanah, api, sampai ke tangan petani. Karena kami percaya, melupakan alat pertanian sama saja melupakan perut kita sendiri."
Jenterarakyat.com mencatat: Museum Cilik WDK Batu bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah ruang perlawanan terhadap arus lupa. Ia adalah bukti bahwa rakyat kecil mampu merawat ingatan bangsanya.
( Hari )
Ditulis oleh
Redaksi Jentera