Langsung ke konten
Hukum

Tragedi Perampokan dan Pembunuhan Siswi SD di Sragen: Bocah 11 Tahun Ditemukan Tewas dengan Tubuh Penuh Luka,

5 menit baca
40x dibaca
AD 728x90 — Landscape
Bagikan:
Tragedi Perampokan dan Pembunuhan Siswi SD di Sragen: Bocah 11 Tahun Ditemukan Tewas dengan Tubuh Penuh Luka,

Sragen, 6 Juni 2026 – Senja itu seharusnya jadi waktu yang tenang di Dukuh Bromoasri, Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Sragen, Jawa Tengah. Namun Jumat (5/6/2026) sore justru menjadi momen paling mencekam yang tak akan pernah dilupakan warga setem...

Sragen, 6 Juni 2026 – Senja itu seharusnya jadi waktu yang tenang di Dukuh Bromoasri, Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Sragen, Jawa Tengah. Namun Jumat (5/6/2026) sore justru menjadi momen paling mencekam yang tak akan pernah dilupakan warga setempat. Sebuah tragedi berdarah mengguncang kampung kecil itu: perampokan disertai pembunuhan sadis terhadap seorang siswi Sekolah Dasar (SD) yang masih berusia 11 tahun.

Korban adalah B, sapaan akrabnya. Seorang anak perempuan yang masih polos dengan senyum yang merekah setiap kali bertemu tetangga. Namun nyawanya harus melayang dengan cara yang paling kejam. Tubuhnya ditemukan tergeletak di dalam rumah dalam kondisi mengenaskan. Wajah dan tangannya penuh luka akibat sabetan senjata tajam. Bahkan, beberapa jarinya disebut-sebut dipotong oleh pelaku.

Apa yang membuat tragedi ini semakin memilukan adalah fakta bahwa saat kejadian berlangsung, rumah dalam keadaan kosong. Tidak ada seorang dewasa pun yang mendampingi B. Ibunya masih bekerja di luar, sementara ayahnya—informasi yang masih samar—juga tidak berada di lokasi. Pelaku dengan leluasa masuk, merampok, dan melakukan aksi biadabnya tanpa ada yang bisa melindungi bocah malang itu.

Baca Juga
Istighosah Akbar Haul Mbah Katsiron dan Sesepuh Cemandi, Ribuan Warga Padati Masjid Al Barokah Sedati

Istighosah Akbar Haul Mbah Katsiron dan Sesepuh Cemandi, Ribuan Warga Padati Masjid Al Barokah Sedati

Religi

Kerabat korban, Novi, yang mengunggah cerita ini di akun Threads @dinanovianiii, membagikan kronologi yang membuat bulu kuduk merinding. "Kejadiannya diperkirakan tadi siang, tapi karena ibunya baru pulang kerja sore, jadi baru ketahuan sore. Sekarang lagi diurus sama polisi setempat," tulis Novi, dikutip pada Sabtu (6/6/2026).

Bayangkan. Sepanjang sore itu, B sudah tidak bernyawa. Ibunya pulang dengan senyum di wajah, mungkin berencana memasak makan malam atau sekadar bertanya kabar putri kesayangannya. Namun yang ditemukan adalah tubuh kaku berlumuran darah di lantai rumah. Luka di wajah. Luka di tangan. Jari-jari yang terpotong dan berserakan.

"Anaknya sudah meninggal, bantu doain ya buat adik B. Sekarang anaknya masih diautopsi di RS," tulis Novi dalam unggahan berikutnya, dengan nada yang berusaha tegar namun jelas terpukul.

Baca Juga
Bayar Izin Kapal Cukup dari Rumah, Kemenhub dan Finnet Indonesia Luncurkan Payment Gateway MaritimHub

Bayar Izin Kapal Cukup dari Rumah, Kemenhub dan Finnet Indonesia Luncurkan Payment Gateway MaritimHub

Nasional

Ia juga mengungkapkan bahwa polisi telah mengamankan beberapa barang bukti. "Barang buktinya juga sudah diamankan, ada 3 senjata tajam, potongan jarinya beberapa ketemu," sambungnya.

Tiga senjata tajam. Itu berarti lebih dari satu alat digunakan untuk merenggut nyawa seorang anak yang tidak bersalah. Jari-jari yang terpotong—mengapa pelaku tega melakukan itu? Apakah untuk mengambil cincin? Atau sekadar aksi sadisme murni? Pertanyaan-pertanyaan ini masih menggantung, menunggu jawaban dari proses penyelidikan.

Namun ada satu pesan yang membuat tragedi ini semakin menyayat hati. Masih dari unggahan Novi, terungkap bahwa B sempat menghubunginya beberapa pekan sebelum kejadian. Tepatnya pada 15 Mei 2026—sekitar tiga minggu sebelum ajal menjemput.

Baca Juga
Persona 6 Diumumkan, Teaser 1 Menit Nuansa Horor dan Logo Hijau Langsung Gemparkan Gamer

Persona 6 Diumumkan, Teaser 1 Menit Nuansa Horor dan Logo Hijau Langsung Gemparkan Gamer

Nasional

"Mba, apa masih punya foto pas lebaran itu? Kalau masih punya, minta ya. Makasih," tulis B dalam pesan singkat yang sederhana itu.

Ia meminta foto lebaran. Momen penuh kebahagiaan yang biasanya dirayakan bersama keluarga dan kerabat. B mungkin ingin menyimpannya sebagai kenangan. Ia tidak pernah tahu bahwa foto itu akan menjadi pengingat terakhir, bahwa ia tidak akan sempat melihat lebaran berikutnya.

Novi yang menerima pesan itu, mungkin hanya menganggapnya sebagai permintaan biasa. Ia mungkin mengirimkan foto-foto itu tanpa berpikir dua kali. Kini, foto yang sama menjadi harta paling berharga sekaligus paling menyakitkan.

Sementara itu, Polres Sragen langsung bergerak cepat. Kapolres AKBP Dewiana, didampingi Kasatreskrim AKP Catur Agus Yudo Praseno, memimpin langsung olah tempat kejadian perkara (TKP). Tim identifikasi, tim laboratorium forensik, dan puluhan personel dikerahkan.

"Kami sudah melakukan olah TKP, mengumpulkan barang bukti, serta meminta keterangan dari para saksi. Mohon waktu agar kasus ini segera dapat kami ungkap," ujar AKBP Dewiana kepada awak media pada Sabtu (6/6/2026).

AKP Catur Agus Yudo Praseno menambahkan bahwa pihaknya masih menyelidiki sejumlah kemungkinan, termasuk apakah pelaku berjumlah lebih dari satu orang. "Kami masih mendalami motif dan jumlah pelaku. Sementara ini, kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada," ujarnya.

Warga Dukuh Bromoasri sendiri hingga Sabtu pagi masih diliputi duka dan ketakutan. Rumah korban dipasang garis polisi. Beberapa tetangga berkumpul di depan rumah, ada yang menangis, ada yang sekadar terdiam sembari sesekali menggelengkan kepala tak percaya.

"Saya kenal B. Dia anak yang baik, sopan. Saya tidak habis pikir kenapa ada orang tega melakukan ini," ujar salah seorang tetangga yang enggan disebut namanya.

Yang lain menambahkan, "Kampung kami biasanya aman-aman saja. Sekarang semua ketakutan. Apalagi saat magrib, suasana jadi mencekam."

Kasus perampokan disertai pembunuhan ini bukan hanya kejahatan biasa. Ini adalah serangan terhadap kepolosan. Terhadap kehidupan yang baru saja mulai mekar. B, di usianya yang ke-11, seharusnya masih bermain dengan teman-temannya, tertawa, bermimpi tentang masa depan. Namun masa depannya dirampas dengan kekejaman yang tak bisa dimaafkan.

Pihak kepolisian berjanji akan mengungkap kasus ini secepatnya. AKBP Dewiana mengatakan bahwa penyelidikan masih berlangsung intensif. "Kami akan bekerja maksimal. Tidak ada kata berhenti sampai pelaku tertangkap. Keluarga korban berhak mendapatkan keadilan," tegasnya.

Malam itu, Desa Dawung tidak tenang. Lampu-lampu di rumah warga menyala lebih terang dari biasanya. Pintu-pintu dikunci ganda. Dan di satu rumah yang kini menjadi pusat duka, ibu B—yang baru pulang kerja dan menemukan anaknya terbujur kaku—masih belum bisa berhenti menangis. Ia memeluk baju B yang masih tergantung di belakang pintu, mencium aroma sabun yang masih tersisa di seragam sekolahnya.

"Anakku, anakku," hanya itu yang bisa ia ucapkan berulang kali.

Trauma tidak akan pernah hilang. Tapi yang bisa dilakukan saat ini adalah menyerahkan segalanya pada proses hukum. Polisi bekerja. Masyarakat mendukung. Dan semua berharap, pelaku—siapa pun mereka—tidak akan lolos dari jerat hukum.

Mereka merenggut nyawa seorang anak. Mereka juga harus merenggut kehormatan mereka sendiri di penjara, dihukum seadil-adilnya. Karena B tidak akan pernah kembali. Tapi keadilan masih bisa ditegakkan.

( Stef )

AD 728x90 — Landscape
R

Ditulis oleh

Redaksi Jentera

Aktifkan Notifikasi

Dapatkan update berita terbaru langsung di browser Anda.